PT Dirgantara Indonesia Merintis Pelopor Industri Habibie


Kematian mantan presiden Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan kerugian besar bagi industri dirgantara di Indonesia, kata Presiden Direktur PT Dirgantara Indonesia Elfien Guntoro.

Habibie, yang meraih gelar doktor di bidang teknik kedirgantaraan dari Universitas RWTH Aachen Jerman, menjabat sebagai chief executive pertama perusahaan dari tahun 1976 hingga 1985, ketika masih bernama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Selain mendirikan perusahaan, dia juga pelopor industri, dimulai dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan LIPNUR (Badan Industri Penerbangan Nurtanio), kata Elfien di kantor Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat, pada hari Rabu, 11 September 2019.

Dia mengembangkan rencana produksi-produksi yang membawa kita dari merakit pesawat hingga merancang sendiri.

Elfien mengatakan bahwa warisan Habibie jelas terlihat pada pesawat yang saat ini diproduksi oleh perusahaan, seperti pesawat NC212i andalannya.

Pesawat berkapasitas 24 orang itu adalah salah satu warisannya, katanya.

Pesawat CN235, yang diproduksi bersama oleh Dirgantara dan produsen pesawat Spanyol Casa, adalah produk lain dari kepemimpinan Habibie.

Model pesawat terakhir dari masa jabatan Habibie adalah N250, yang sertifikasinya terhenti oleh krisis moneter yang melanda negara itu pada akhir tahun 1990-an.

Elfien Guntoro mengatakan bahwa Dirgantara ingin melanjutkan warisan Habibie dengan menyelesaikan sertifikasi model terbarunya, kapasitas 19-orang N219, pada akhir tahun ini.

Jadi kita bisa mulai memproduksinya, katanya.

Tidak ada komentar