Jurnalis Perempuan Pertama Di Indonesia, Pendiri UGM Menobatkan Enam Pahlawan Nasional Baru


Presiden Joko Widodo (Jokowi) menganugerahkan gelar pahlawan nasional secara anumerta pada enam tokoh terkemuka pada hari Jumat sebagai pengakuan atas kontribusi mereka kepada negara selama perjuangan untuk kemerdekaan.

Judul-judul itu diberikan kepada ahli waris mereka dalam upacara resmi di Istana Negara pada hari Jumat, dalam sebuah acara yang merupakan bagian dari peringatan Hari Pahlawan Nasional, yang jatuh pada tanggal 10 November 2019.

Tokoh-tokoh itu termasuk Ruhana Kuddus dari Sumatra Barat, yang adalah jurnalis wanita pertama di Indonesia, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, raja Kesultanan Buton pada tahun 1750-an dan tokoh pertama dari Sulawesi Tenggara yang menerima gelar pahlawan nasional dan Sardjito, rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berbasis di Yogyakarta.

Tiga yang tersisa adalah Alexander Andries Maramis, Abdul Kahar Muzakkir dan KH Masjkur, yang semuanya adalah anggota Badan Pekerjaan Persiapan untuk Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang sebelumnya tidak ada yang disebut sebagai pahlawan nasional.

Wakil Ketua, Ketua Dewan Kehormatan dan Kehormatan, Jimly Assidique, mengatakan sebelum upacara bahwa gelar tersebut diberikan sebagai pengakuan atas layanan berharga yang diberikan oleh almarhum pahlawan ke negara tersebut.

"Sardjito melakukan pelayanan besar dalam pendidikan. Sementara itu, Ruhana adalah tokoh terkemuka dalam jurnalisme," kata Jimly.

Selain sebagai pendiri UGM, Sardjito juga dikenal karena perannya dalam pendirian sejumlah universitas di seluruh negeri, termasuk Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya dan Universitas Islam Indonesia (UII), antara lain.

Ruhana, sementara itu, lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam di Sumatera Utara pada tanggal 20 Desember 1884. Pada 1911, ia mendirikan sebuah sekolah bernama Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang.

Sepanjang hidupnya, ia aktif menulis untuk surat kabar wanita lokal Poetri Hindia. Dia kemudian mendirikan korannya sendiri Soenting Melajoe pada tahun 1970-an. Ruhana meninggal di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1972, pada usia 87 tahun.

Tidak ada komentar