Kematian Mendadak Anggota Tim Pengibar Bendera Tangerang Selatan Menimbulkan Tuduhan Pelecehan


Kematian mendadak anggota tim pengibaran bendera nasional (Paskibraka) Tangerang Selatan pada hari Kamis dengan memar yang ditemukan di tubuhnya telah menimbulkan tuduhan bahwa ia telah dilecehkan oleh seniornya.

Korban, yang diidentifikasi sebagai Aurellia Qurrota Ain, adalah siswa kelas 12 di sekolah menengah Al Azhar di Tangerang Selatan, Banten, dan ditetapkan untuk mengibarkan bendera nasional selama upacara Hari Kemerdekaan kota pada 17 Agustus 2019.

Ayah Aurellia, Farid Abdurrahman, berusia 42 tahun, ingat putrinya mengatakan bahwa dia telah menerima pelatihan berlebihan dalam tim.

Dia mengklaim putrinya telah diberitahu oleh seniornya untuk makan jeruk dengan kulitnya dan melakukan push-up dengan kepalan tangan.

Para senior kemudian memberinya tugas tambahan yang menguras dirinya secara psikologis, seperti mengharuskannya untuk menulis buku harian setiap hari ketika dia lelah dari kegiatan pagi hingga malam, katanya di rumahnya di kota Tangerang pada hari Jumat.

Farid juga mengklaim bahwa Aurellia enggan memberi tahu orang tuanya tentang pelatihan berlebihan pada awalnya, takut bahwa mereka akan mengajukan keluhan terhadap seniornya.

Dia pernah mengatakan kepada kami bahwa setelah menerima keluhan dari orang tua, para manula telah memberi mereka hukuman yang lebih berat. Itu membuat anak-anak takut untuk mengatakan kebenaran kepada orang tua mereka, tambahnya.

Paman Aurellia, Romi, juga mengklaim ada memar di tubuh keponakannya, menambahkan bahwa dia pernah memberi tahu keluarganya tentang dipukuli oleh seniornya di tim.

Keluarga telah meminta pemerintah Tangerang Selatan untuk menyelidiki kasus ini, atau mereka harus mengambil tindakan hukum sebaliknya.

Polisi dilaporkan mencari penyebab kematiannya.

Tidak ada komentar