Psikolog Tentang Crossdresser Muslim Dikenal Sebagai Crosshijaber


Munculnya komunitas crossdresser pria mengenakan jilbab, dijuluki oleh orang-orang sebagai crosshijaber di media sosial, akhir-akhir ini menyebabkan kegemparan di kalangan anggota masyarakat.

Psikolog klinis di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta, Widya Shintia Sari, M.Psi, menyerukan agar orang tidak terburu-buru menilai kecenderungan ini sebagai bentuk penyimpangan seksual sebelum penelitian lebih lanjut dilakukan oleh para profesional.

“Apakah itu dianggap penyimpangan seksual atau tidak harus ditentukan oleh apa yang memotivasi mereka untuk melakukannya. Perlu studi lebih lanjut, ”kata Widya.

Lebih jauh, dia menyarankan penelitian perlu dilakukan untuk menentukan apa yang mendorong seorang pria untuk secara sengaja mengenakan pakaian Islami wanita dalam bentuk jilbab atau niqab. Dia berpendapat ada sejumlah kemungkinan yang mendorong pria untuk berpartisipasi dalam tren crosshijaber ini.

Dia mencatat bahwa ada kemungkinan bahwa pelaku menemukan kepuasan seksual dalam mengenakan pakaian wanita Muslim atau fetisisme waria. Ada juga motivasi lain yang mungkin seperti untuk tujuan hiburan agar menjadi populer, atau pada dasarnya hanya menarik perhatian untuk tujuan memiliki konten mereka viral. Psikolog juga tidak mengesampingkan niat kriminal dalam mengemudi crossdresser ini.

"Apakah pelaku berada di bawah pengaruh obat-obatan atau zat juga harus dipertimbangkan," kata Widya Shintia Sari.

Tidak ada komentar